Catatan Untuk Anakku I
PROLOG
Kupeluk
tubuh kecil anakku. Dia tertidur. Sudah lelap. Harusnya aku tidak pernah
menitipkannya pada siapapun. Anak sekecil itu seharusnya selalu dalam
lindunganku sebagai ibu dan satu-satunya orang tua yang ia miliki, namun semua
dengan alasan pekerjaan. Gadis kecilku terpaksa melewati beberapa minggu tidak
bersamaku.
“Mama,
aku tidak diberi makan sama tante. Tante suka ngomel dan marah-marah sama aku.”
Dengan gayanya yang khas, Talita merajuk. Aku tahu apa yang ia ucapkan tidaklah
benar. Semua adik-adikku sangat sayang pada Talita. Mereka mengurusinya bahkan
lebih baik dari aku mengurusinya. Memandikannya, menyuapinya, menidurkannya.
Semua mereka lakukan tepat waktu. Tidak seperti aku. Kadang-kadang justru aku
membiarkan saja Talita tidak mandi seharian, itu kalau sudah beberapa kali
menyuruhnya mandi tapi Talita menolak dan berlari kesana-kemari.
“Ya
sudah kalau gak mau mandi. Yang bau
bukan mama tapi Tita, nanti kalau mama mau pergi jangan minta ikut yah, mama
gak mau bawa anak yang belum mandi.” Kalimat panjang ini justru sering aku
ucapkan sebagai bujukan agar Talita mau mandi.
Talita
bukan tidak suka mandi, dia justru sangat suka mandi. Dia bisa menghabiskan
waktu cukup lama di kamar mandi, tapi untuk membujuknya ke kamar mandi itu yang
susah, sama susahnya membujuk dia berhenti mandi.
Setiap
kali habis menitipinya pada adikku, Talita suka sekali mengarang cerita tak
diberi makan, diomeli bahkan dipukuli. Tapi aku hanya tertawa mendengar
pengaduannya itu. Aku tahu Talita mengarang semua ceritanya seolah itu benar
agar aku tidak lagi pernah menitipinya pada siapapun. Meski akupun kerap kali
mengomel, tapi kasih sayang seorang ibu yang tak tergantikan tetap berlaku bagi
siapapun. Termasuk Talita.
Kukecup
kening Talita. Dalam keadaan tidur pulas wajahnya terlihat lucu. Bibirnya yang
penuh dan hidung kecilnya sering membuatku mengolok-oloknya. “Tita tuh
sepertiga wajahnya bibir semua.” Ucapku dibarengi tawa.
“Mama….
Tita cantik!!” protesnya cepat, mengerti kalau aku tidak sedang memujinya.
“Emang siapa yang bilang Tita tidak cantik?”
tanyaku merasa tidak bersalah, lalu memeluknya dan menghujaninya ciuman di pipi
dan bibirnya.
“Ih
mama jorok,” ucapnya berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Lalu berlari
kesana kemari dengan riang.
Semakin
jauh malam merangkak semakin pulas Talita tertidur. Sementara aku justru
semakin tak bisa memjamkan mata. Pikranku melayang entah kemana. Ada
kebahagiaan menyusupiku tapi bersamaan dengan itu pula ada kesedihan
mengolok-olokku.
Di
sudut kamar tergeletak koper coklat yang penuh dengan pakaianku. Pakaian Talita
hanya beberapa lembar saja di dalam koper itu. Sementara tas kecil lainnya
berisi sepatu dan sandalku. Semua barang milikku sudah kukemas, tidak semuanya
tapi yang lainnya sudah kuwariskan pada siapa saja yang menginginkannya. Aku
hanya membawa yang benar-benar aku sukai. Tapi barang milik Tita masih rapi
tersusun dalam lemari kecilnya.
Kuciumi
wajah anakku yang semakin pulas. “Aku pernah berjanji tidak akan meniggalkanmu
sayang, namun yang aku lakukan justru akan meninggalkanmu tak lama lagi,”
bisikku tertahan. Nafasku terasa sesak.
Kulepas
pelukanku. Kututup wajah dengan kedua tangan. Aku tak bisa menahan tangis.
Malam terakhir di kota kelahiran benar-benar membuat tangisku tumbah. Tangis
yang tak bisa kumaknai, antara bahagia dan sedih, semua berbaur jadi satu.
JOGJAKARTA
Riuh
suara Talita di antara orang-orang yang berlalu-lalang dengan bagasi yang
didorong di atas troli. Sementara aku sibuk mengeluarkan kertas berisi nomor
penerbangan menuju Jogjakarta. Maskapaiku sudah ditentukan beberapa hari lalu.
Barang-barangkupun sudah dibagasikan semua. Tak ada lagi kecuali tas dengan
tali panjang berwarna coklat yang mengalung di pundakku. Tangan kananku mengandeng
Talita berjalan menuju gate yang tertera di kertas bording pass. Tak ada lagi
beban yang menderaku. Semua sudah kutumpuk di atas bantal basah yang
kutinggalkan. Langkahku ringan namun penuh harapan. Dua minggu lagi, aku punya
dua minggu lagi menghabiskan waktu bersama Talita dan Ariq yang dua tahun
terakhir bersekolah di Jogjakarta. Ikut pamannya, Kakakku.
Penerbangan
malam. Aku selalu suka penerbangan malam. Dari jendela pesawat aku bisa melihat
cahaya kota di bawah sana. Lampu-lampu yang dinyalakan sejak senja tadi seperti
gemintang yang ditabur di atas hamparan luas. Warnanyapun beragam. Tidak hanya
kuning, merah dan putih tapi pendar cahaya itu begitu memukau mata. Aku tersenyum.
Indahnya malam dengan cahaya kota dari ketinggian.
“Namaku
Tita, mau ke Jogja ketemu kakak Ariq,” suara Tita yang khas tiba-tiba
membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Gadis kecilku berbicara pada penumpang lain
yang duduk di belakang kami.
“Jangan
gangguin orang, nak,” aku menariknya. Posisi Tita berdiri di kursinya. Aku ingin
membuatnya duduk dengan tenang di kursinya.
“Mama,
Tita kan Cuma kenalan sama tantenya,” ucapnya protes sambil cemberut.
“Ya
mama tau, tapi tantenya mungkin mau istirahat,” jawabku lembut seraya mengusap
wajahnya penuh kasih sayang.
Tita
terdiam. Masih dengan wajah cemberut. Tangannya dilipat. Gaya khas dia kalau
lagi protes.
“Nanti
aja kalau pesawatnya sudah sampai, Tita boleh kenalan sama siapa saja yah,”
rayuku sambil mencium pipinya. Kalau saja pesawat belum mau lepas landas, aku
tidak akan menghalanginya berkenalan dengan siapa saja. Tita memang begitu,
dengan mudah gadis kecilku itu berkomunikasi dengan orang yang sering kami
temui di perjalanan. Bukan hanya pada orang dewasa, anak kecilpun ia sapa
dengan akrab. Terkadang aku suka dengan sikapnya yang mudah bergaul tapi tak
jarang aku was-was dengan sikapnya itu. Aku kawatir ada orang jahat dan
tiba-tiba membawanya pergi. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika itu
menimpaku.
“Mama,
minta hp,” suara Tita akhirnya mencair. Tapi ekspresi wajahnya masih datar.
Kukeluarkan
ponselku dari dalam tas, kuaktifkan mode pesawatnya. Tita gadis kecilku yang
tak pernah bisa diam berlama-lama. Ia butuh sesuatu yang bisa menarik
perhatiannya. Untuk perjalanan yang butuh dua jam sebelum tiba di Jogjakarta,
aku berkompromi dan meberinya ponselku.
“Ngomong
apa dong kalau sudah di kasi hp?” tanyaku menggodanya.
“Makasi
mama,” ucapnya tersenyum. Raut kekecewaan yang tadi menghiasi wajahnya sudah
hilang sama sekali. Gadis kecilku yang baik hati, pikirku. Tiga hari lagi umur
Tita menginjak empat tahun. Rasanya baru kemarin menggendongnya kemana-mana. Menyuapinya
bubur saring yang harus kumasak sejak subuh. Mengejeknya karena hidungnya yang
peseknya sama seperti hidungku. Sekarang gadis kecilku itu sudah cukup paham
dengan apa yang kurasakan. Aku ingat betul bagaimana tangan kecil itu lebih
sering mengusap air mataku ketika ia mendapatiku menangis sendiri. Aku sayang mama, begitu ia sering
berbisik. Apa lagi yang aku cari dalam hidup ini. Aku telah diberkahi anak-anak
yang begitu pandai, ceria dan tentu saja cantik.
Dua
jam tak terasa. Pesawat sebentar lagi mendarat. Ponselku sudah menghuni tasku.
Tita sudah sejak tadi tertidur. Aku berusaha membangunkannya ketika satu
persatu penumpang pesawat berjalan menuju pintu pesawat. Ternyata tidur Tita
begitu lelap sehingga meski beberapa kali membangunkannya tetap saja Tita tak
mau bangun. Aku menggendongnya menuruni pesawat. Seorang petugas bandara berdiri
di ujung tangga menyodorkan payung padaku. Kami disambut gerimis di kota budaya
itu. Kota yang selalu membuatku rindu akan suasananya. Kota di mana seribu
kenanganku pernah terukir.
Aku
menunggui bagasiku. Tita sudah terbangun. Ia tak bersuara, hanya menatapi
sekelilingknya. Tita tahu kami sudah di Jogja. Ini yang kedua kalinya Tita
berada di kota ini.
Aku
mendorong troli berisi tiga potong barangku. Abang sudah berdiri di pintu ruang
tunggu bagasi bandara. Wajah ceria Tita terlihat seketika ketika ia melihat
orang yang selama ini ia panggil bapak.
“Bapak
Ancang…..!!!” teriak Tita sumringah. Abangku yang dipanggil bapak oleh Tita
menyambut teriakan Tita dengan senyum. Gadis kecilku itupun dihadiahi ciuman di
pipinya.
Kuhirup
udara Jogja dalam-dalam. Ah, rasanya selalu sama ketika kembali ke kota ini. Ada
haru membuncah. Kenangan masa lalu kembali silih berganti. Susah senang berbaur
menjadi satu. Aku datang lagi wahai
Jogjakarta, begitu ucapku dalam hati.
Komentar
Posting Komentar