Rumah Nusantara
Siapa yang pernah menebak bagaimana kehidupan kita suatu hari nanti. Di mana dan bersama siapa kita akan menjalani hari-hari kita di suatu hari nanti. Apakah kita diberi sebuah keluarga kecil yang terus akan abadi hingga usia kita menua dan anak-anak keluar dari rumah dan menjalani hidup mereka masing2, atau pernikahan itu harus berakhir dan anak-anak kita terpaksa hidup terpisah dari kita dan menjalani hidup mereka tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang terpaksa berpisah karna satu dan lain halnya.
Seperti itulah yang kini aku rasakan. Aku pernah memiliki keluarga kecil tempat dimana aku bisa menumpahkan semua ekspresi yang aku punya. Susah, senang, bahagia, kesal, marah, kecewa, semua menyatu dalam rumah kecil bernama keluarga itu. Namun lambat laun semua memudar. Pikiranku tentang sebuah keluarga akhirnya berubah. Aku berjalan melewati waktu demi waktu tanpa keluarga yang seperti aku pahami sebelumnya. Aku membesarkan dan merawat anak-anakku sendiri hingga akhirnya aku berada pada satu posisi dimana menjadi hal terbaik bagi anak-anak bukan lagi bagaimana sebuah keluarga hidup lengkap di satu atap. Anak2 akhirnya dipaksa tumbuh tanpa ayah ibunya yang lengkap. Dan tidak ada apa2 tentang hal itu, toh begitulah hidup berjalan dengan semestinya.
Setelah perjalanan panjang itu akhirnya saya terhempas di sini. Rumah besar dimana saya baru mengenal semua orang yang ada dalam rumah ini. Seorang perempuan yang saya panggil dengan kata ibu justru saya baru bertemu dgnnya Desember tahun lalu. Laki-laki paruh baya yang saya panggil om justru baru saya temui beberap bukan lalu. Dan semua penghuni rumah ini juga baru saya temui sekitar 3 bulan lalu. Tapi inilah rumah. Di sini ada seorang ibu yang selalu peduli dengan apa yang aku rasakan, apa yang aku kerjakan dan dengan siapa aku berkawan. Dia adalah ibu yang matanya berkaca-kaca jika mengetahui ada kesdihan yang terselubung di hatiku, yang dengan serta merta memanggilku ke kamarnya lalu mengajakku berdiskusi untuk kebahagiaanku. Inilah rumah dimana keluarga itu benar-benar terasa hangat dan penuh kasih sayang meskioun pada dasarnya aku bukanlah siapa-siapa di sini sebelum mengenalnya sebagai ibu.
Siang kemarin aku duduk di dapur ibu dengan orang-orang yang juga tingga di tumah ini menyelesaikan masakan rendang untung di hidangkan dalam perjamuan minggu besok. Ada sesuatu yang begitu menggelitikku dan membuat pikiranku begitu mensyukuri hidup ini. Di hadapanku ada tiga orang perempuan yang usianya jauh lebih tua dariku. Mereka semua bekerja untuk ibu. Ada yang bertugas memasak di dapur, ada yang bertugas mencuci pakaian dan ada yang lainnya yang sudah terlatih bekerja menyelesaikan masakan rendang untuk acara besok. Bibi yang mengurusi dapur dan kencuci pakaian berasar dari jawa tengah dan jawa timur, sementara teteh yang mengurusi rendang berasal dari jawa bara, sementara aku sendiri berasal dari Makassar. Kami berkumpul di dapur itu dan mengobrol ngalor-ngidul dengan topik apa saja yang di rasa menarik. Aku juga nimbrung. Berjam-jam duduk di depan komputer di dalam kamar membuatku jengah. Akhirnya aku di sana bersama mereka dan tertawa lepas kengisi sedikit jiwaku dengan keceriaan orang-orang di dapur. Obrolan kami sederhana, kadang2 membicarakan soal arah mata angin dengan bahasa yang berbeda2 dari daerah asal kami. Si tetah memberi tahukan kami bagaimana kenyebut utara, timur barat dan utara dalam bahasa sunda, sementara kedua bibi yang dari jawa timur dan jawa tengah tak mau kalah menyebutksn juga bagaimana orang-orang di kampunya menyebutkan arah mata angin itu pada kaimi, terakhir giliranku yang menyebutkannya. Semua tertawa mendengarkan aku berkata: Rilau, Riaja, Riattang dan Manorang dalam arah mata angin menggunakan bahasa bugis. Kamipun tertawa bersama-sama. Untuk penggunaan bahasa jawa dan sunda memang masih ada kepirupan dalam mengucapkannya, namun dalam bahasa bugis sangat berbeda. Bahasa Jawa mungkin sudah sangat familiar bagi banyak orang, berbeda dengan bahasa bugis yang dalam pengucapannya saja terdengan aneh dan lucu di telinga orang yang jarang mendengarkannya. Kami tertawa sekehendak kami tanpa merasa saling mengejek bahasa daerah masing-masing. Justru brolan itu membuat kami merasa saling dekat satu sama lainnya. Lalu aku terdiam. Inilah rumah, pikirku. Rumah Nusantara. Semua suku berkumpul di sini. Orang yang kupanggil ibu bersuku Minang. Dia adalah ibu dengan banyak anak-anaknya yang bukan bersuku sama dengan dia. Anak2 ibu ada yang dari Jawa, Sunda, Bugis, Padang, bahkan ada yang berwarga negara slain Indonesia.
Jika org2 banyak yang menganggap bahwa bangsa kita ini kaya krn ada begitu banyak suku yang tersebar di berbagai belahan Nusantara, maka aku juga akan bilang bahwa ibu adalah orang yang benar-benar kaya karna memilik anak2 dari berbagai suku. Anak2 yang tidak pernah ia lahirkan namun ia perlakukan seperti anaknya sendiri. Dia adalah ibu Hasmijati Koto. Perempuan Minang yang dibesarkan dengan keras namun kerasnya hidup dimasa lalunya itulah dia mampu mengukir sendiri kisah seperti apa kisah yang seharusnya dia miliki. Dialah permpuan yang tidak hanya punya segalanya tapi juga punya Rumah Nusantara dimana semua orang hidup di dalamnya dengan merasa seperti keluarga meski latarbelakang kehiduoan mereka berbeda. Semiga Allah memberi ibu kami kehidupan yang lebih panjang agar kami anak2 yang ia besarkan dengan cinta di rumah nusantaranya mampu memberinya kebanggaan telah membimbing kami. Amin.
Siapa yang pernah menebak bagaimana kehidupan kita suatu hari nanti. Di mana dan bersama siapa kita akan menjalani hari-hari kita di suatu hari nanti. Apakah kita diberi sebuah keluarga kecil yang terus akan abadi hingga usia kita menua dan anak-anak keluar dari rumah dan menjalani hidup mereka masing2, atau pernikahan itu harus berakhir dan anak-anak kita terpaksa hidup terpisah dari kita dan menjalani hidup mereka tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang terpaksa berpisah karna satu dan lain halnya.
Seperti itulah yang kini aku rasakan. Aku pernah memiliki keluarga kecil tempat dimana aku bisa menumpahkan semua ekspresi yang aku punya. Susah, senang, bahagia, kesal, marah, kecewa, semua menyatu dalam rumah kecil bernama keluarga itu. Namun lambat laun semua memudar. Pikiranku tentang sebuah keluarga akhirnya berubah. Aku berjalan melewati waktu demi waktu tanpa keluarga yang seperti aku pahami sebelumnya. Aku membesarkan dan merawat anak-anakku sendiri hingga akhirnya aku berada pada satu posisi dimana menjadi hal terbaik bagi anak-anak bukan lagi bagaimana sebuah keluarga hidup lengkap di satu atap. Anak2 akhirnya dipaksa tumbuh tanpa ayah ibunya yang lengkap. Dan tidak ada apa2 tentang hal itu, toh begitulah hidup berjalan dengan semestinya.
Setelah perjalanan panjang itu akhirnya saya terhempas di sini. Rumah besar dimana saya baru mengenal semua orang yang ada dalam rumah ini. Seorang perempuan yang saya panggil dengan kata ibu justru saya baru bertemu dgnnya Desember tahun lalu. Laki-laki paruh baya yang saya panggil om justru baru saya temui beberap bukan lalu. Dan semua penghuni rumah ini juga baru saya temui sekitar 3 bulan lalu. Tapi inilah rumah. Di sini ada seorang ibu yang selalu peduli dengan apa yang aku rasakan, apa yang aku kerjakan dan dengan siapa aku berkawan. Dia adalah ibu yang matanya berkaca-kaca jika mengetahui ada kesdihan yang terselubung di hatiku, yang dengan serta merta memanggilku ke kamarnya lalu mengajakku berdiskusi untuk kebahagiaanku. Inilah rumah dimana keluarga itu benar-benar terasa hangat dan penuh kasih sayang meskioun pada dasarnya aku bukanlah siapa-siapa di sini sebelum mengenalnya sebagai ibu.
Siang kemarin aku duduk di dapur ibu dengan orang-orang yang juga tingga di tumah ini menyelesaikan masakan rendang untung di hidangkan dalam perjamuan minggu besok. Ada sesuatu yang begitu menggelitikku dan membuat pikiranku begitu mensyukuri hidup ini. Di hadapanku ada tiga orang perempuan yang usianya jauh lebih tua dariku. Mereka semua bekerja untuk ibu. Ada yang bertugas memasak di dapur, ada yang bertugas mencuci pakaian dan ada yang lainnya yang sudah terlatih bekerja menyelesaikan masakan rendang untuk acara besok. Bibi yang mengurusi dapur dan kencuci pakaian berasar dari jawa tengah dan jawa timur, sementara teteh yang mengurusi rendang berasal dari jawa bara, sementara aku sendiri berasal dari Makassar. Kami berkumpul di dapur itu dan mengobrol ngalor-ngidul dengan topik apa saja yang di rasa menarik. Aku juga nimbrung. Berjam-jam duduk di depan komputer di dalam kamar membuatku jengah. Akhirnya aku di sana bersama mereka dan tertawa lepas kengisi sedikit jiwaku dengan keceriaan orang-orang di dapur. Obrolan kami sederhana, kadang2 membicarakan soal arah mata angin dengan bahasa yang berbeda2 dari daerah asal kami. Si tetah memberi tahukan kami bagaimana kenyebut utara, timur barat dan utara dalam bahasa sunda, sementara kedua bibi yang dari jawa timur dan jawa tengah tak mau kalah menyebutksn juga bagaimana orang-orang di kampunya menyebutkan arah mata angin itu pada kaimi, terakhir giliranku yang menyebutkannya. Semua tertawa mendengarkan aku berkata: Rilau, Riaja, Riattang dan Manorang dalam arah mata angin menggunakan bahasa bugis. Kamipun tertawa bersama-sama. Untuk penggunaan bahasa jawa dan sunda memang masih ada kepirupan dalam mengucapkannya, namun dalam bahasa bugis sangat berbeda. Bahasa Jawa mungkin sudah sangat familiar bagi banyak orang, berbeda dengan bahasa bugis yang dalam pengucapannya saja terdengan aneh dan lucu di telinga orang yang jarang mendengarkannya. Kami tertawa sekehendak kami tanpa merasa saling mengejek bahasa daerah masing-masing. Justru brolan itu membuat kami merasa saling dekat satu sama lainnya. Lalu aku terdiam. Inilah rumah, pikirku. Rumah Nusantara. Semua suku berkumpul di sini. Orang yang kupanggil ibu bersuku Minang. Dia adalah ibu dengan banyak anak-anaknya yang bukan bersuku sama dengan dia. Anak2 ibu ada yang dari Jawa, Sunda, Bugis, Padang, bahkan ada yang berwarga negara slain Indonesia.
Jika org2 banyak yang menganggap bahwa bangsa kita ini kaya krn ada begitu banyak suku yang tersebar di berbagai belahan Nusantara, maka aku juga akan bilang bahwa ibu adalah orang yang benar-benar kaya karna memilik anak2 dari berbagai suku. Anak2 yang tidak pernah ia lahirkan namun ia perlakukan seperti anaknya sendiri. Dia adalah ibu Hasmijati Koto. Perempuan Minang yang dibesarkan dengan keras namun kerasnya hidup dimasa lalunya itulah dia mampu mengukir sendiri kisah seperti apa kisah yang seharusnya dia miliki. Dialah permpuan yang tidak hanya punya segalanya tapi juga punya Rumah Nusantara dimana semua orang hidup di dalamnya dengan merasa seperti keluarga meski latarbelakang kehiduoan mereka berbeda. Semiga Allah memberi ibu kami kehidupan yang lebih panjang agar kami anak2 yang ia besarkan dengan cinta di rumah nusantaranya mampu memberinya kebanggaan telah membimbing kami. Amin.
Komentar
Posting Komentar