Pedoman Pernikahan dan Buku Panduannya (Bagian I)
Apa yang
terbaik dari sebuah kehidupan selain rasa syukur. Apa yang paling menenangkan dalam hidup selain
penerimaan yang utuh dan melepaskan semua beban hidup yang terus mendera. Beberapa tahu lalu. Di kota yang sama tempatku
saat ini duduk menikmati secangkir kopi
Americano dengan dua sachet Brown Sugar. Dulu.... dulu sekali, saya sangat
menyukai aroma kopi yang wangi dan membuatku bergairah. Gairah itu sudah lama
padam semenjak penghianatan mulai masuk dan mengusik hidupku dan akupun
melupakan aroma kopi itu bersama kepahitan hidupku yang terus mendera.
Siapa yang tak
tahu tentang hidupku yang penuh intrik. Aku menikah sudah dua kali. Suami pertamaku
kukenal hanya sepintas lalu di sebuah gedung kesenian. Saat itu usiaku bak bunga yang sedang mekar-mekarnya. Memiliki
hidup dengan romantika percintaan rasanya akan memberi kehidupan yang
berwarna. Entahlah apa aku
sungguh-sungguh jatuh cinta ketika itu atau hanya ingin menjadi perempuan utuh
yang memiliki satu cinta untuk diperjuangkan.
Laki-laki itu melamarku. Sikap manis ia tunjukkan. Hatiku pun tergoda. Kala itu aku hanya
melihat bahwa laki-laki yang benar-benar mencintai adalah dia yang berani
menikahimu, melepaskanmu dari hidup
dengan beban kesendirianmu. Aku dulu
hanya berpikir bahwa laki-laki yang telah berani mengucapkan
shigat Ta’lik adalah laki-laki suci
yang siap mengembang semua tanggungjawab untuk kebahagiaanku. Aku tak pernah berpikir
bahwa sejatinya bahagia bukanlah kata-kata yang
tertera di belakang buku nikah yang dibacakan usai pembacaan ijab kabul yang
disaksikan dan disahkan oleh penghulu. Aku
terlalu naif memaknai sebuah pernikahan.
Memiliki sebuah keluarga kecil dengan cerita-cerita romantika yang aku
ceritakan pada dunia sejatinya adalah kisah romantika yang menggugah. Namun sayang,
pernikahan itu gagal. Gagal total tepatnya. Hanya bertahan tak lebih dari 18
bulan. Sebuah pernikahan yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun juga, pun
diriku.
Apa aku
menangisinya? Apa aku bersedih dengan pernikahan yang seumur jagung itu? Apa aku
menyesalinya? Apa aku mengutuknya? Apa aku mengutuk hidupku? Apa aku tak bisa
melupakan kehidupan itu?
Aku menangisi pernikahan itu, aku benar-benar
bersedih dengan pernikahan yang seumuran jagung itu. Aku pernah menyesalinya. Aku
pernah mengutuknya, mengutuk hidupku. Akupun terpuruk hingga tak bisa melupakan
kehidupan yang pahit dimana rasa pahitnya
tidak hanya di tenggorokan, melainkan hampir merasuk ke semua bagian diriku
yang terkecil sekalipun. Aku hancur... yah... aku hancur. Lantas apa aku tak
bisa melupakan kehidupan itu? Tentu saja aku bisa meski aku melupakannya dengan
cara menghadirkan sosok lain menggantikannya. Begitulah sebagian perempuan. Mereka
melupakan yang lainnya dengan menghadirkan yang lain lagi. Mereka lupa bahwa
cara itu bukan cara terbaik yang bisa mereka usahakan. Sebuah pernikahan yang
hancur tak selamanya akan membaik dengan menggantinya dengan pernikahan baru. Bahkan
itu cara paling menyesatkan untuk melupakan kegagalan yang ada. Catatan penting
buatku, menjadi lebih baik dan hidup dengan apa yang bisa kita usahakan jauh
lebih baik daripada jatuh cinta di saat yg tidak tepat. Yah.... jatuh cinta
yang tidak tepat. Begitulah pernikahan keduaku.
Siapa orang
yang telah sanggup meluruhkan hatiku yang luka dengan cinta baru yang ia
tawarkan? Dia seorang pria lajang yang usianya lebih muda dariku setahun. Apa yang
istimewa dari laki-laki yang telah memberiku dua orang putri itu? Sama sekali
tak ada. Dia sama sekali tidak good
looking. Urakan, berantakan, kumal, dekil, mungkin itulah kata-kata yang
bisa menggambarkan sosoknya. Rambutnya panjang keriting dan berantakan. Seua orang
berkata padaku bahwa jatuh cintaku ketika itu adalah jatuh cinta yang gila. Hmmmm....
bukankah semua jatuh cinta itu adalah bentuk kegilaan yang indah.
Sebenarnya bukan
hal mudah bagi dia meluruhkan kebekuan hatiku dari sakit yang pernah kurasakan.
Dari sakit yang sedang aku derita. Namun begitulah adanya kata-kata. Perempuan adalah
mahluk yang sangat suka dengan kebohongan. Perempuan yang memiliki hati yang
lemah sangat suka dengan kata-kata indah. Pun diriku.
“Bagaimanapun
aku mencintaimu itu tak akan pernah cukup untuk membuatmu mncintaiku karna
sejatinya cinta tak pernah bisa
dipksakan,”
Kalimat itu
menjadi pamungkas buatnya untuk memenangkan hatiku. Dan dia berhasil. Aku terjerat
oleh cintanya. Perjuangannya berakhir. Keakuanku
berakhir di hadapan penghulu. Surat akta cerai yang menjadi identitas kegagalan
pernikahanku diawal kutukar dengan surat nikah baru. shigat Ta’lik pun ia bacakan lagi
di depan penghulu dan keluargaku. Apa aku bahagia? Entahlah.... aku bahkan lupa
bagaimana rasanya memiliki dua pernikahan.
Dua kali, yah
dua kali laki-laki yang dulu pernah kumuliakan sebagai orang yang berani
mengemban tanggungjawab atas hidup dan matiku membacakan shigat Ta’lik itu di depan waliku
dan keluargaku. Tapi kenyataannya semua itu tak lebih sebuah turorial
pernikahan yang harus dijalankan. Akan terlihat mudah untuk menjalankannya
namun kenyataannya tak demikian adanya.
Pernahkah kita
membeli sebuah benda elektronik dengan buku panduan tebal yang akan menuntun
kita dalam mengoprasikan benda elektronik itu. Ada tutorial utuh yang akan kita temukan jika kita telah
membuka segel dari kardus elektronik itu. Mulai dari satu tombol turn on hingga
tombol turn off, semua begitu detail. Semua
dari kita jarang ada yang membaca pedoman itu dari halaman awal hingga halaman
akhir. Kita lebih suka mempelajari bagamana menggunakan benda itu dari sales
penjualan yang menawarkan benda elektronik itu, namun ingatkah kita, saat sesuatu
terjadi pada benda elektronik itu, ketika kerusakan kecil terjadi pada benda
tak bernyawa itu, kita dengan cepat mencari kardusnya dan membuka buku
pedomannya dan berususaha mencari tahu apa yang harusnya kita lakukan agar
benda itu brjalan lagi dengan baik seperti sedia kala. Alu setelah di lain
waktu, setelah benda itu berjalan dengan baik lagi sesuai fungsinya maka kita
akan memperlakukannya dengan baik, seolah-olah kita tak ingin hal itu terjadi lagi.
Kita menjaganya seperti menjaga sesuatu yang teramat berharga dalam hidup kita.
Namun sayang, berbeda deengan sebuah pernikahan. Meskipun semua orang berkata
bahwa pernikahan adalah sesuatu hal yang sangat sakral dan mereka berupaya
hanya menginginkannya sekali saja dalam hidupnya dan di awal perjalanan
pernikahan itu mereka membaca shigat Ta’lik itu
dengan suara lantang, dengan penuh rasa haru dan suka cita bagi orang-orang
yang mendengarnya, namun ketika sesuatu terjadi justru mereka tak pernah
kembali mencari apa yang salah, apa yang rusak dalam pernikahan itu dan mereka
sama sekali tak pernah kembali melirik buku pedoman pernikahan yang mereka
miliki yang masing-masing pasangan memiliki sebuah dengan warna yang berbeda.
Mungkin memang
tak benar adanya memperlakukan sebuah pernikahan seperti membeli sebuah benda elektronik yang
bisa rusak kapan saja. Namun kedengarannya itu sangat logic. Bukalah buku nikah
itu ketika badai terjadi dalam penikahan kalian. Bacalah janji pernikahan yang
ada di balik buku nikah itu. Pahamilah maknanya satu demi satu kata. Resapilah
apa yang telah membuat pernikahan itu menjadi rusak. Bacalah pedomannya. Perbaikilah.
Kembalikanlah seperti sediakala sebelum semuanya rusak. Meski sebuah kerusakan
akan menghadirkan ketidak stabilan untuk hari-hari berikutnya, namun
memperbaikinya jauh leebih mudah daripada membeli pernikahan yang lain dan
menyimpan yang lainnya di sudut hatimu yang juga mulai rusak. Sebuah pernikahan
memang sangat sakral jika kita
memperlakukannya dengan sakral. Namun sebuah pernikahan hanya seperti membeli
barang elektronik, bahkan jauh lebih murah dari itu jika kita tak pernah mau
peduli bahwa apa yang telah kita lakukan tidak hanya menghancurkan hidup orang
yang kita cintai tapi juga akan
menghancurkan hidup kita sendiri.
Dua kali. Gagal
dua kali. Itu bukan hal mudah buatku. Itu hal tersulit yang pernah aku lalui
dalam hidupku. Namun begitulah hidup, apa yang telah kita lewati tak lebih
penting daripada bagaimana kita menghadapi hidup ini. Tutuplah semua lembaran
usang yang membebani hatimu. Bukalah dengan senyum. Lupakan bahwa ada
orang-orang yang diciptakan dalam hidupmu untuk mengajarimu bagaimana rasanya
terluka dan orang-orang itu pulalah dengan tanpa sadar mengajarimu menjadi
lebih baik dan lebih kuat. Keluarlah dari cangkang penderitaanmu akibat ulah
orang-orang itu, sejatinya mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam
hidupmu. Mereka telah menjadikanmu pejuang tangguh, pejuang sejati dan pejuang yang
tak pernah berhenti memperjuangkan hal indah yang pantas kau miliki.
Makassar , 11
Mei 2017
Komentar
Posting Komentar