MASJID DAN ANAK-ANAK
Pernahkan kita mengingat
masa-masa kecil kita tentang masjid? Saya akan mengingatnya sepanjang hidup
saya dimana masjid adalah tempat bermain saya, tempat mengaji saya dan tempat
saya berbagi dengan teman-teman sepermainan saya. Bagaimana ketika Ramadhan
tiba? Ramadhan seperti sebuah waktu yang selalu saya tunggu setiap hari. Meskipun
saya baru belajar berpuasa dan belum lagi sanggup berpuasa hingga sehari penuh,
rasanya sangat suka cita jika saya mengetahui bahwa Ramadhan telah tiba.
Ramadhan adalah bulan yang
dipenuhi dengan begitu banyak rencana ketika itu. Beberapa teman sepermainan
saya akan menyisihkan uang jajan mereka dan kami mengumpulkannya bersama-sama
dan membeli beberapa permainan yang akan kami mainkan sepanjang hari agar kami
lupa kalau kami sedang berpuasa. Saat itu Ludo, Ular tangga, monopoli ataupun Beklan(permainan bola bekel) sangat
favorit di kalangan kami. Hampir setiap rumah memiliki permainan ini, kalaupun
tidak, pastilah di salah satu rumah lain ada dan akan mereka mainkan secara
bersama-sama.
Di jamanku itu semua anak masih
main bersama. Ketika pagi berangkat sekolah dan sore hari bermain bersama
merupakan aktifitas rutin yang tidak pernah terlupakan, sangat berbeda dengan
jaman sekarang ini. Dulu kami bermain di halaman masjid tanpa perlu
mengkhawatirkan ada orang jahat yang akan menculik kami. Jarak rumah dan masjid
dengan rumahku ada sekitar tiga blok, cukup jauh dari rumah, namun orang-orang yang tinggal di
sekitar masjid mengenali kami semua, orang tua kami dan juga rumah kami. Kerukunan
warga terjalin dengan erat sehingga tak mudah bagi orang luar datang mengganggu
kami apalagi menculik kami sehingga kekawatiran akan penculik dan lain
sebagainya tidak dirasakan orang tua kami.
Sementara saat ini, anak-anak tak
dibolehkan keluar rumah dan bermain jauh dari rumah. Kalaupun mereka bermain di
luar rumah harus ada orang dewasa yang
mengawasi mereka. Permainan anak-anak jaman sekarang pun tak lebih dari mainan
plastik yang hanya bisa menumbuhkan sikap individualis pada anak sejak dini, maka
tak jarak komunikasi yang tumbuh pada anak di jaman sekarang ini terlihat jauh
merosot dari jaman saya kecil dulu.
Kembali pada masjid. Waktu ngabuburit
adalah waktu yang sangat kami nanti-nantikan. Sebagian dari kami yang usai
bermain akan kembali ke rumah masing-masing. Ada yang membantu orang tua di
dapur menyiapkan menu buka puasa. Sebagian lagi hanya duduk di pojokan dengan
muka masam karna tak bisa lagi menahan rasa lapar padahal waktu bedug magrib
tak kurang dari lima menit.
Wajah kami akan sumringah ketika
bedug magrib terdengar dari masjid-masjid yang ada di wilayah kami. Meskipun jaraknya
tiga blok dari rumah, suara bedug magrib jelas terdengar dari ruang makan rumah
kami, itu karena pengeras suaranya memang mencakupi semua rumah yang ada di
sekitar masjid itu.
Ketika buka puasa tiba, saya akan
memilih makanan yang manis-manis. Biasanya mama selalu menyiapkan semangkuk
besar es buah yang kami makan ramai-ramai. Setelah sholat magrib berjamaah
bersama bapak barulah kami bersiap-siap ke masjid untuk sholat tarawih.
Masjid tidak pernah menolak kami.
Seberapapun gaduhnya kami di masjid ketika sholat tarawih itu, tak seorangpun
menunjukkan wajah masamnya pada kami. Beberapa orang memang bergumam, “ah dasar
anak-anak,” tapi mereka sama sekali tidak marah dengan kelakuan kami.
Aku bukan tipe anak yang suka
diam. Meskipun sementara sholat, aku sering kali membuat kejahilan pada
teman-temanku. Ujung mukena mereka kuikatkan pada ujung mukena yang lainnya. Kalau
bukan mukena mereka yang aku ikat, aku akan memilih ujung sarung mereka yang
lebih sulit mereka ketahui. Terkadang jika kami sudah selesai sholat dan hendak
pulang ke rumah, sebagian dari mereka akan terjatuh karena ikatan sarung mereka
menghalangi langkah yang lainnya sehingga jika salah seorang dari mereka
bejalan lebih awal akan menarik yang lainnya lagi.
Mereka tak pernah marah ketika
aku jahili seperti itu. Kami akan tertawa jika salah satu dari kami terjatuh. Hal
yang sama akan mereka lakukan padaku di lain waktu. Mereka akan membuat rencana
untuk menjahiliku. Terkadang mereka menyembunyikan sandalku sehingga saat akan
pulang aku akan kelabakan mencari sandalku. Tak ada dari mereka yang mau
mengaku hingga aku hampir menangis barulah mereka menertawakanku dan
menunjukkan di mana mereka menyimpan sandal itu. Tapi kami tak pernah marah
satu sama lainnya.
Keriuhan-keriuhan itu datangnya
tidak hanya dari kelompok kecil kami. Ada beberapa kelompok anak-anak yang suka
bermain bersama di daaerahku ketika itu. Terkadang kami saling bersaing antar
kelompok yang lainnya itu. Namun begitulah anak-anak, kami melakukan semua
kenkonyolan-kekonyolan itu hanya untuk sebuah tawa dan keceriaan.
Orang-orang dewasa akan sholat
dengan khusuk, sementara kami akan sholat dengan kadang-kadang tersenyum. Tapi tak
sekalipun kami mendengar orang-orang dewasa itu memarahi kami apa lagi mengusir
kami dari masjid.
Suatu ketika aku mendengar
seorang penceramah berkata pada jamaah masjid ketika itu. “Biarkan anak-anak
kita datang ke masjid menghabiskan waktu mereka di bulan Ramadhan ini. Anak-anak
tak punya cukup banyak waktu di luar Ramadhan untuk mengenali tempat ibadah ini.
Jika saat ini mereka masih menganggap bahwa masjid boleh mereka tempati
bermain, maka kelak mereka mengerti bahwa keimanan mereka bertumbuh sejak kecil
di Masjid ini. Anak-anak memang harus dikenalkan dengan masjid agar mereka
lebih akrab dan saling mengenal jika mereka dewasa nanti. Bagaimana kita orang
dewasa akan menyukai masjid jika sejak kecil kita tidak pernah dikenalkan
dengan masjid.”
Kalimat itu masih membekas
diingatan saya, itulah sebabnya saya tak pernah heran dengan masjid kami yang
selalu ramai dengan anak-anak yang berlarian, main petak umpet bahkan tertidur
di masjid.
Tidak hanya di malam hari saat
sholat tarawih saja kami mendatangi masjid. Saat subuh setelah kami sahur
bersama orang tua kami di rumah, kami akan berjalan dengan hati penuh suka cita
menuju masjid untuk melakukan sholat subuh. Kami mendengarkan ceramah subuh
hingga matahari muncul dengan malu-malu di ufuk timur. Usai mendengarkan
ceramah subuh, beramai-ramai kami berjalan beriringan melintasi jalan-jalan
kampung. Kami menyusuri jalan-jalan kampung dan menyapa orang-orang kampung
yang berdiri di depan rumah mereka yang juga masih mengenakan mukena sama
seperti kami. Mungkin hal inilah yang membuat kami saling mengetahui satu sama
lainnya. Kami saling menyapa di bulan ramadhan. Kami berkumpul di masjid yang
sama dan orang-orang tua menjaga kami anak-anak kampung itu.
Saat ini ketika saya membaca
begitu banyak postingan tentang masjid yang tidak pemperbolehkan anak-anak
datang ke masjid saat tarawih atau ibadah lainnya. Rasanya saya ingin menangis.
Bagaimana mungkin mereka lupa tentang masa kecil mereka yang telah mengenal
masjid saat masa kanak-kanak. Bagaimana mungkin mereka tidak berniat
menganalkan masjid pada anak-anak padahal mereka dulu dikenalkan pada masjid
sejak dini. Apakah dunia memang sudah berubah? Apakah beribadah hanya
diperuntukkan pada mereka orang-orang dewasa yang egois dan menganggap khusyuk
ada sebuah keheningan tanpa gangguan apapun.
Sesungguhnya aku benar-benar
ingin menangis saat kemarin aku membaca status seorang teman di media sosial
yang berkata bahwa anaknya yang masih berumur empat tahun mendapat perlakuan
kasar dari salah satu jamaah masjid tempatnya beribadah selama ini. Anak itu
diseret keluar dari masjid dengan keras dan kasar hanya karna anak itu tertawa
dengan keras di masjid. Sebagai orang dewasa, apakah orang itu tidak memiliki
rasa kasih sayang terhadap anak kecil?
Aku punya anak kecil yang masih
berumur empat tahun lebih. Di rumah yang kami tempati saat ini setiap malam
warga datang sholat tarawih di sini. Kami memang khusus mendatangkan imam untuk
sholat tarawih itu. Kami melakukan saholat Isya sebelum tarawih dan witir. Saya
selalu mengajak anakku ikut sholat bersama kami. Kadang-kadang dia menurutiku
namun lebih banyak dia tidak mau. Saat kami sholat dia akan terus berlarian di
depan kami. Terkadang dia memelukku dari belakang ketika aku sujud. Terkadang pula
dia tertawa-tawa di hadapanku dan mengajakku berbicara. Kelakuannya mungkin
terlihat nakal bagi sebagian orang, namun saya sangat bersyukur, semua orang
dewasa yang ikut sholat bersama kami tak seorangpun yang berbuat kasar padanya,
justru hanya sayalah yang menegurnya ketika saya merasa tingkahnya keterlaluan.
Terkadang saya belalakkan mata dan membuatnya diam sesaat, terkadang saya cubit
pantatnya tapi tetap saja dia seperti itu.
Sebenarnya saya juga ingin agar
anakku bisa ikut kami sholat seperti anak lain yang juga ada dalam jamaah kami,
tapi begitulah anak-anak, mereka tak semuanya sama. Mereka memiliki pikiran
mereka masing-masing dan kita sebagai orang tua tidak berhak memaksakan
kehendak pada mereka.
Untuk semua orang tua yang merasa
bahwa ibadah mereka yang khusyuk adalah hal yang penting, ingatlah. Menjaga anak-anak
kita dari perlakuan-perlakuan kasar, terlebih di masjid adalah juga merupakan
sebuah amanah, dan menjaga amanah merupakan sebuah ibadah. Bukankan anak-anak
memang sebuah amanah yang pertanggungjawabannya akan kita terima kelak di
akhirat. Ibadah bukanlah sebuah gerakan sholat saja namun ibadah adalah mencakup
keseluruhan dalam kehidupan kita di muka bumi ini.
Kenalkanlah masjid pada anak-anak
kita sejak dini agar kelak ketika mereka dewasa mereka tahu masjid itu bukan
sekedar tempat untuk sholat. Masjid adalah tempat kita kembali, tempat kita
membangun bangsa ini, tempat kita memupuk persaudaraan kita. Tempat kita
berbuat baik pada sesama. Katakan pada anak-anak kita bahwa masjid sejatinya
adalah rumah bagi semua ummat Muslim di dunia.
Bekasi, 3 Juni 2017
Komentar
Posting Komentar